Penggalan tulisan dari pengalaman seorang pelajar di Standford University ttg semangat entrepreneurship yang luar biasa.

———-

*Entrepreneurship*

Di sini saya benar2 sadar kunci utama kemajuan entrepreneurship di US :
pendidikan. Universitas, terutama. Teman saya, graduate student yang sempat
intern di Facebook summer lalu, bilang kalo waktu dia bertemu mahasiswa CS
di Stanford, hampir semua bilang kalau mereka mau membuat startups, bukan
bekerja. Emphasis Stanford terhadap entrepreneurship benar2 kuat � aura
entrepreneurship di sini adalah one of those things yang harus ada di sini
untuk �ngerasain� itu. Environmentnya luar biasa kondusif. Kerja di *small
or start-up company* adalah sesuatu yang *hip* di sini. Mahasiswa
punya *start-up
*itu biasa. Banyak *faculty* di sini yang entrepreneurs themselves atau
berhubungan dekat dengan perusahaan2 (presiden Stanford, John Hennessy,
adalah boardmember di Google dan banyak company lain) � dan mereka ready
untuk mentor entrepreneurs secara langsung. Professor Frederick
Terman,
misalnya, menjadi mentor Hewlett dan Packard waktu mereka masih di garasi di
Palo Alto, dan mendorong terbentuknya Silicon Valley. Larry Page dan Sergey
Brin sering menyebut Professor Terry
Winogradsebagai pengaruh
besar terbentuknya Google.

Di kampus, kami punya Stanford Student Startup
Lab(semacam YCombinator), Stanford
Technology Venture Program , seminar mingguan
tentang entrepreneurship , kelas
entrepreneurship , konferensi
entrepreneurship
, Startup School,
dan banyak kontes-kontes entrepreneurship di kampus. Kami punya job fair
khusus start-ups. Kedekatan kami dengan Silicon Valley membawa banyak tokoh
bicara di sini � dalam tiga bulan, saya bertemu Seth Sternberg (cofounder
Meebo), Peter Thiel (CEO Paypal &
venture capitalist), beberapa venture capitalist dan eksekutif dari
Facebook, Twitter, dan Foursquare. Mark
Zuckerberg�mampir� ke
salah satu kelas pendahuluan Computer Science. VC atau tokoh2
Silicon Valley sering datang ke sini menilai presentasi2 tugas akhir.

Ujung tombak perubahan adalah universitas. Untuk Indonesia bisa membentuk
�Silicon Valley�nya sendiri (seperti wacana yang belakangan ini sering
muncul), yang harus ada di depan bukan pemerintah, tapi universitas �
bagaimana mereka melibatkan startups yang sekarang menjamur di Indonesia
dalam proses pendidikan, dan berperan lebih aktif dalam mengembangkan kultur
entrepreneurship. First and foremost, seharusnya, adalah bagaimana membuat
bekerja di startup sebagai sesuatu yang nggak asing atau aneh. Dari sisi
lain, startups juga baiknya membuka kesempatan magang bagi
mahasiswa-mahasiswa.

*Praktikalitas*

Selama SMA, saya mengamati, dan merasakan, bagaimana pelajaran dasar
programming sangat mudah untuk jadi �membosankan�. Kode looping,
percabangan, teks hasilnya keluar di layar warna hitam�. Dan murid akan
bertanya, �terus kenapa? Apa gunanya?� Dan waktu saya sempat mengajar di
beberapa pelatihan, saya cuma bisa bilang �sabar ya. ini masih dasar, tapi
bentar lagi ada *good stuff*nya.� Karena itu saya impressed melihat
bagaimana *approachable-*nya kelas programming dasar di sini.

Kelas dasar programming di Stanford terdiri dari 2 bagian, CS 106A dan CS
106B. Kelas CS 106A menarik hampir seribu murid setiap tahunnya, sebagian
besar tanpa pengalaman programming sebelumnya. Minggu pertama kelas itu,
mereka bermain dengan Karel, *teaching language *mirip Pascal, tapi
sintaksnya sangat disederhanakan, dan belajar konsep-konsep dasar
programming tanpa perlu terlalu khawatir dengan masalah sintaks. Setelah
itu, mereka belajar Java. Kelebihan kedua kelas ini, menurut saya, adalah
profesor-profesornya sudah mengkode *library *yang customized untuk
kelas-kelas ini, termasuk tampilan grafis yang menarik dan struktur data
yang lebih learner-friendly. Sejak awal, dari semua tugas kedua kelas ini,
programming dibuat menantang, tapi hasilnya bisa dinikmati. Tugas terakhir
CS 106A adalah membuat *facebook *yang bisa diikuti dan dimainkan
murid-murid pengambil kelas tersebut (dan Mark Zuckerberg jadi surprise
guest lecturer di kelas terakhir). Tugas terakhir kelas CS 106B adalah versi
sederhana Google Map.

Waktu orientasi, ada �demo kelas� tentang machine learning. Profesornya
nunjukkin video helikopter akrobatik yang muter2 di angkasa, dan bilang kalo
itu dimulai dari proyek siswa sophomore (tingkat dua). Kelas CS 193 (iPhone
& iPad Application Programming) menghasilkan aplikasi2 yang sekarang ada di
iTunes Store. Aplikasi Pulse untuk iPad yang mendapat rave reviews di
TechCrunch adalah hasil kelas
di d.school. Tugas akhir kelas database
adalah membuat situs seperti eBay. Salah satu hasil terbaiknya adalah website
ini (murid yang membuat
website tsb juga membuat website YouTube Instant
yang sempat viral, diliput
TechCrunch, dan ditawari posisi di YouTube langsung oleh CEOnya via
Twitter.Awesome
guy in person too).

Sumber : milis sekolahrumah.

Iklan